Wednesday, June 8, 2016

Cerita Kisah Raja Namrud : Hancurnya Pasukan Bergajah Kala Menyerang Mekah Oleh Burung Ababil

Hancurnya Pasukan Bergajah Kala Menyerang Mekah Oleh Burung Ababil

 Kisah Tentang Pasukan Bergajah Yang Mau Menyerang Ka’bah - Kisah tentang Pasukan Bergajah, merupakan tanda-tanda yang agung dan kejadian penting sebelum manusia suci dan mulia, Rasulullah saw. dilahirkan. Selain kisah ini ada juga kisah dan kejadian penting lainnya seperti kisah penggalian sumur Zamzam oleh Abdu Muthalib, kakek Rasulullah saw.

Kisah ini dinyatakankan di dalam Al-Qur’an dan hadits Nabi. Allah Ta’ala berfirman,

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِأَصْحَابِ الْفِيلِ (١) أَلَمْ يَجْعَلْ كَيْدَهُمْ فِي تَضْلِيلٍ (٢) وَأَرْسَلَ عَلَيْهِمْ طَيْرًا أَبَابِيلَ (٣) تَرْمِيهِمْ بِحِجَارَةٍ مِنْ سِجِّيلٍ (٤) فَجَعَلَهُمْ كَعَصْفٍ مَأْكُولٍ

Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara bergajah? . Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka’bah) itu sia-sia? Dan Dia mengirimkan kapada mereka burung yang berbondong-bondong, yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar, lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat).
(QS. Al-Fiil: 1- 5)

Rasulullah saw. juga mendapati isyarat bahwa dahulu pernah ada kejadian fenomenal, sebagaimana dinyatakan beberapa hadits beliau, di antaranya adalah hadits yang menyatakan pada masa Hudaibiyyah, Nabi Muhammad saw. bersama para sahabat beliau keluar menuju kota Makkah. Tatkala beliau sampai di Tsaniyah, tempat di mana dahulu tentara bergajah hancur, tiba-tiba hewan tunggangan yang dinaiki beliau menderum (berlutut). Orang-orang pun berusaha menggusahnya, “Hush, hush!.” Namun kuda tersebut malah semakin enggan berdiri. Lalu mereka berkata, “Al-Qashwa (nama unta Rasulullah) tidak mau berdiri!” Nabi saw. kemudian berkata, “Al-Qashwa bukannya tidak mau berdiri dan ini tidak seperti biasanya, tapi karena memang penahan tentara bergajah (maksudnya adalah Allah) telah menahan Al-Qashwa.”’

Uraian Kisah
Dalam as-Sirah An-Nabiwyyah karya Ibnu Hatim dijelaskan sebagai berikut - Ketika itu ada seorang raja Yaman yang bisa menundukkan seekor gajah. Raja Yaman yang berasal dari Habasyah (Ethiopia) itu bernama Abrahah. Dia masih keturunan Bani Kanisah di Shanaa dan yang memberi nama Abrahah adalah Al-Qullais. Abrahah berniat untuk memindahkan ritual haji yang biasa dilakukan orang-orang Arab dahulu ke Yaman. Oleh karena itu dia bersumpah akan menghancurkan Ka’bah. Suatu hari ada seorang raja Himyar bernama Dzu Nafar. Ia berusaha untuk menyerang Abrahah, namun gagal dan Abarahah pun berhasil menangkap raja Himyar tersebut. Ketika Abarahah bermaksud membunuh Dzu Nafar, dia berkata kepada raja Abrahah, “Wahai sang raja, janganlah paduka membunuhku. Jika paduka membiarkan aku tetap hidup maka itu lebih baik dari membunuhku.” Abrahah kemudian membiarkan Dzu Nafar hidup dan percaya pada kata-katanya. Setelah itu Abrahah bersama pasukannya pergi meneruskan perjalanannya untuk menghancurkan Ka’bah.

Ketika sampai di negeri Khats’am, keluarlah An-Nufail bin Habib Al-Khats’ami dan beberapa orang dari kabilah Y Mereka berusaha menyerang Abrahah berikut tentaranya, namun Abrahah mampu mengalahkan An-Nufail dan pasukannya, lalu An-Nufail berkata, “Wahai raja, sesungguhnya aku ulurkan kedua tanganku bersama para pengikutku dan kami akan tunduk di bawah kekuasaanmu.” Akhirnya Abrahah pun membiarkan An-Nufail hidup dan bergabung bersama Abrahah untuk menunjukkan jalan menuju tempat di mana Ka’bah berada.

Hancurnya Pasukan Bergajah Kala Menyerang Mekah Oleh Burung Ababil

Tatkala rombongan Abrahah sampai di Thaif, Mas’ud bin Mu’attab bersama para pembesar penduduk Tsaqif keluar untuk menemui Abrahah sembari berkata, “Wahai sang raja, kami adalah budakmu dan kami mengakui kehebatanmu. Kami tidak akan menghalangi keinginanmu untuk menghancurkan Ka’bah di Makkah. Oleh karena itu kami berniat mengutus seseorang yang akan menunjukkan jalanmu ke sana. Lalu mereka mengutus salah seorang penunjuk jalan bernama Abu Righal. Kemudian dia pergi bersama rombongan Abrahah. Sampai akhirnya ketika mereka sampai di Mughammas (sebuah daerah yang berdekatan dengan kota Makkah yang berada di jalur Tha’if), Abu Righal tiba-tiba mati dan akhirnya dikubur di situ. Kuburan inilah yang di kemudian hari dilempari batu oleh orang-orang yang melintasinya.

Abrahah kemudian mengutus salah seorang penduduk Mughammas yang bernama Al-Aswad bin Maqshud. Dengan menaiki seekor kuda, Al-Aswad pun berangkat menuju kota Makkah. Kedatangan Al-Aswad disambut oleh penduduk Makkah. Mereka kemudian bernegoisasi, hingga akhirnya Abdul Muthalib harus kehilangan 200 onta miliknya yang berada di daerah Arik. Kemudian Abrahah kembali mengutus Hunathah Al-Himyari ke Makkah. Abrahah berpesan padanya, “Tanyakan pada penduduk Makkah, siapakah orang yang dianggap terhormat oleh penduduk Makkah dan sampaikan padanya jika kedatanganku ke Makkah bukan untuk berperang. Aku datang hanya untuk menghancurkan Ka’bah.”

Hunathah pun pergi, sehingga manakala sampai di Makkah, dia bertemu dengan Abdul Muthalib bin Hasyim, lalu berkata, “Sesungguhnya sang raja mengutusku untuk bertemu dengan kamu. Dia mengabarkan bahwasanya kedatangannya ke Makkah bukan untuk berperang kecuali jika kalian semua memeranginya. Dia datang hanya untuk menghancurkan Ka’bah agar kalian berpaling darinya.” Abdul Muthalib hanya menjawab, “Kami tidak akan berperang dengan Abrahah. Kami akan membiarkan dia melakukan apa pun terhadap Ka’bah. Urusan dia dengan Ka’bah, kami pasrahkan semuanya kepada Allah. Sungguh demi Allah kami tidak memiliki daya untuk mencegahnya.” “Kalau begitu ikutlah bersama kami untuk bertemu dengan Abrahah.”

Akhirnya Abdul Muthalib pergi bersama Hunathah. Sehingga sampailah Abdul Muthalib di perkemahan Abrahah dan pasukannya. Ternyata Dzu Nafar yang dari awal setia menemani Abrahah adalah teman dekat Abdul Mutharib. Kemudian Abdul Muthalib mendatangi Dzu Nafar dan berkata padanya, “Wahai Dzu Nafar, apakah kamu memiliki kekayaan yang bisa kamu berikan kepada kami?” Dzu Nafar menjawab, “Tidaklah mungkin seorang yang tertawan memiliki kekayaan. Bahkan kami sendiri tidak merasa aman dari kematian, bisa jadi besok pagi ataupun sore hari nanti kami akan terbunuh. Akan tetapi aku akan mengirim kamu ke Unais, pengurus ternak gajah. Aku akan memerintahkan padanya agar menemui sang raja dan kemudian sang raja akan memberikan sesuatu yang berharga untuk kamu. Dia bisa membesarkan hatimu dan memberimu kedudukan tinggi di sisinya.”

Kemudian Dzu Nafar mengirim Abdul Muthalib untuk bertemu dengan U Berkatara Dzu Nafar kepada Unais, “Sesungguhnya ini adalah pemimpin suku Quraisy, pemilik mata air Makkah (Zamzam) yang dengannya dia memberikan minuman kepada manusia di bumi dan binatang-binatang liar di pegunungan. Raja Abrahah juga terah merampas onta miliknya yang berjumlah 200 ekor. Jika mau, kamu dapat mengambil manfaat darinya. Ambillah manfaat darinya, karena dia adalah teman dekatku.”

Tak lama kemudian Unais menemui Abrahah dan berkata. “Wahai sang raja, ini adalah pemimpin Quraisy dan pemilik mata air Makkah (Zamzam) yang dengannya dia memberikan minuman kepada manusia di bumi dan binatang-binatang liar di pegunungan. Dia meminta izin padamu dan sangat berharap kamu akan mengizinkannya. Dia datang kepadamu dalam kondisi tidak memerangimu dan tidak mel Oleh karena itu, izinkanlah dia untuk menemuimu. Dia adalah Abdul Muthalib, seorang laki-laki yang terhormat, besar, dan sangat gagah.” Tatkala Abrahah melihatnya, dia hormat dan memuliakannya. Abrahah tidak mau duduk di atas kursi kebesarannya sementara Abdul Muthalib duduk di bawahnya. Lalu Abrahah pun turun dan duduk di atas tikar bersama Abdul Muthalib.

Kemudian Abdul Muthalib berkata padanya, “Wahai sang raja, engkau telah mengambil harta bendaku yang banyak, karena itu aku memohon agar engkau mengembalikanna lagi kepadaku.” Abrahah kemudian berkata pada Abdul Muthalib, “Sungguh aku kagum padamu saat aku melihatmu, namun sungguh aku berpaling darimu.” Abdul Muthalib menjawab, “Mengapa demikian?” Abrahah menjawab, “Aku datang untuk mengambil Ka’bah dan ia adalah agamamu dan agama nenek moyangmu. Ia adalah benteng dan kekuatan kalian. Lalu aku berniat untuk menghancurkannya, tapi kamu malah membicarakan perihal 200 untamu.” Abdul Muthalib menjawab, “Aku adalah pemilik unta-unta itu, sedangkan Ka’bah ada pemiliknya sendiri yang akan menjaganya.” Dengan nada sombong Abrahah menjawab, “Tidak ada yang bisa mencegah keinginanku.” Abdul Muthalib berkata, “Silahkan itu urusanmu dengan pemilik Ka’bah.”

Lalu Abrahah memerintahkan bawahannya untuk mengembalikan 200 onta milik Abdul Muthalib. Kemudian setelah Abdul Muthalib mendapatkan kembali onta miliknya, maka dia pun pergi. Dia mengabarkan kepada penduduk Quraisy dan menyarankan agar mereka mengungsi ke daerah perbukitan. Abrahah yang kala itu sudah berada di Mughammas segera menyiapkan bala tentaranya untuk memasuki kota Makkah. Dia mendekati seekor gajah yang akan menjadi kendaraannya. Ia membawa segala sesuatu yang dibutuhkan. Dengan angkuh dia pun berdiri di atas gajah. Tapi manakala dia menggerakkan gajahnya, tiba-tiba gajah tersebut tidak mau beranjak seakan-akan kakinya terikat dan berlutut (menderum). Para ajudan Abrahah mencoba memukul kepala gajah tersebut dengan beliung, tapi tetap tidak mau bergerak. Mereka mencoba memasukkan kayu di bawah lekuknya, tapi tetap gajah itu tidak berkutik. Anehnya ketika gajah tersebut di arahkan ke Yaman, baru ia mau beranjak. Mereka kembali berusaha membelokkan ke Makkah, tapi gajah berhenti dan tidak mau berjalan.

Tak lama kemudian dari arah laut tiba-tiba datang burung-burung dan setiap ekor burung membawa tiga batu. Dua batu di kakinya dan satu batu lagi di paruhnya. Laksana membawa kacang dan adas, burung-burung tersebut beterbangan di langit menuju Abrahah dan bala tentaranya. Batu-batu yang dibawa burung tersebut dihujamkan ke bawah manakala ia melintas di kepala Abrahah dan bala tentaranya. Siapa pun yang terkena batu tersebut pasti hancur binasa. Tapi tidak semua bala tentara Abrahah terkena batu-batu mematikan tersebut.

Bala tentara Abrahah berjatuhan terkena batu itu. Abrahah pun berusaha menyelamatkan diri dan batu tersebut sempat mengenai jari-jari Abrahah, sehingga menimbulkan borok dan rontok satu persatu. Dari jari-jarinya keluar darah dan nanah. Abrahah pulang ke Yaman dan menderita sakit yang teramat parah. Abrahah tak ubahnya seperti tengkorak burung dan akhirnya Abrahah pun mati.

Dalam kitab sejarahnya, sebagaimana dinukil oleh Ibnu Hisyam, Ibnu Ishaq menuturkan bahwa Abdul Muthalib bersama sejumlah penduduk Quraisy sebelum kejadian itu sempat berdoa di depan pintu Ka’bah. Mereka memohon kepada Allah agar Abrahah dan bala tentaranya kalah. Di depan pintu Ka’bah, Abdul Muthalib bersenandung:

Sesungguhnya seorang hamba menahan kakinya, karena itu tahanlah

Tipu muslihat mereka berganti menjadi tipu muslihat-Mu

Jika Engkau membiarkan mereka dan Ka’bah kami

Kemudian Abdul Muthalib membawa pintu Ka’bah dan berangkat bersama penduduk Quraisy menuju ke kawasan pegunungan. Dari sana mereka mengawasi dan melihat apa yang akan dilakukan Abrahah tatkala memasuki kota Makkah. Tapi apa yang terjadi, Abrahah dan bala tentaranya binasa sebelum sampai di kota Makkah.

Hancurnya Pasukan Bergajah Kala Menyerang Mekah Oleh Burung Ababil

Pelajaran dan Hikmah dari Peristiwa Tentara Bergajah

Menjelaskan tentang mulianya Ka’bah. Ia adalah rumah yang pertama kali dibangun untuk manusia. Kala itu, betapa kaum musyrik Arab mengagungkan dan mensucikannya. Mereka tidak mau menukarkan apa pun dengannya. Kemuliaan Ka’bah ini merupakan bagian dari warisan ajaran Nabi Ibrahim dan Ismail.

Irinya orang-orang Nasrani dan kedengkian mereka terhadap kota Makkah dan orang-orang Arab yang mengagungkan rumah suci ini. Oleh karena itu, Abrahah berniat memalingkan mereka dari pengagungan terhadap Ka’bah dengan cara membangun tandingannya yang berupa gereja besar bernama Al-Qulais. Namun demikian, meskipun berbagai macam cara Abrahah mengancam dan menakut-nakuti orang-orang Arab, tapi mereka tetap berusaha mempertahankan Ka’bah. Bahkan sampai ada salah seorang dari mereka yang membuang kotorannya di dalam gereja tersebut. Ar-Razi berkomentar mengenai firman Allah yang berbunyi’. “Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka itu sia-sia.” (Al-Fiil: 2). Ar-Razi berkata, “Ketahuilah bahwasanya yang dimaksud tipu daya Abrahah dan bala tentaranya adalah berbuat sesuatu yang membahayakan orang lain dan dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Seandainya ada yang mengatakan, ‘Apa itu (upaya penghancuran Ka’bah) merupakan bagian dari tipu daya, padahal mereka melakukannya secara terang-terangan?’ Maka kami menjawab, ‘Memang benar hal tersebut dilakukan secara terang-terangan, akan tetapi sebenarnya apa yang ada di hati mereka itu lebih jahat daripada apa yang tampak dilakukan oleh mereka, karena pada dasarnya Abrahah menyimpan kedengkian yang mendalam terhadap orang-orang Arab. Ia bermaksud memalingkan orang-orang Arab dari mengagungkan Ka’bah dan negerinya ke gereja yang ia bangun dan negerinya.”

Pengorbanan demi tempat-tempat suci. Oleh karena itu, salah seorang raja Himyar berani melawan Abrahah dan tentaranya, meskipun akhirnya kalah dan ia ditahan. Kemudian An-Nufail bin Habib Al-Khats’ami bersama kawan-kawannya juga berusaha menghalau pasukan Abrahah yang dahsyat, akan tetapi mereka juga tak mampu mengalahkannya. Semua itu dilakukan dalam rangka membela kemuliaan Ka’bah. Sesungguhnya fitrah manusia menyatakan bahwa membela sesuatu yang dianggap suci dan berkorban karenanya adalah perbuatan yang sangat mulia.

Orang-orang yang khianat pasti akan ditinggalkan (tidak mendapat pertolongan). Mereka adalah para pengkhianat yang bekerjasama dengan Abrahah dan bala tentaranya. Kemudian mereka menjadi mata-mata dan intel bagi pihak Abrahah. Mereka menunjukkan arah ke Baitullah Al-‘Atiq (Ka’bah) untuk dihancurkan. Karena itu mereka mendapatkan laknat, baik di dunia maupun di akhirat. Orang-orang dan Allah pun melaknat mereka. Kuburan Abu Righal menjadi simbol pengkhianatan mereka. Ia dikutuk dan dibenci oleh siapa pun. Mereka yang melintasi kuburan Abu Righal mencaci dan melemparinya dengan batu.

Pertempuran antara Allah dan musuh-musuh-Nya. Hal ini terlihat dari perkataan Abdul Muthalib, pemimpin Makkah, “Kami akan membiarkan urusan Abrahah dengan Ka’bah, kami pasrahkan semua itu kepada Allah. Sungguh kami tidak memiliki daya apa pun atas Baitullah.” Perkataan ini merupakan pengakuan mendalam atas hakikat peperangan yang terjadi antara Allah dan musuh-musuh-nya. Sebesar apa pun kekuatan musuh namun sedikit pun tak akan mampu melawan kekuasaan Allah, kekuatan-Nya, dan kemurkaan-Nya. Dialah Allah yang memberikan kehidupan dan Dia pula yang akan merenggutnya kembali, kapan pun.

Al-Qasimi berkata, “Al-Qasyani berkata, ‘Kisah tentara bergajah sangat masyhur dan sangat dekat dengan masa Nabi Muhammad. Semua ini merupakan tanda kekuasaan Allah dan wujud kemurkaan-Nya terhadap orang yang berani menerjang larangan Allah.”

Pengagungan manusia terhadap ‘Rumah dan Penghuninya’. Masyarakat Arab sangat mengagungkan Ka,bah. Mereka selalu menjaga dan melindunginya dari serangan orang-orang yang ingin menghancurkannya dan dari upaya orang-orang yang ingin berbuat makar terhadap Ka’bah. Masyarakat Arab juga sangat menghormati suku Quraisy. Mereka berkata, “Suku Quraisy adalah suku yang paling dekat dengan Allah (Ahlullah). Allah akan menolong suku Quraisy dari musuh-musuhnya dan Allah akan membinasakan siapa pun yang memusuhinya.” Semua itu merupakan alamat dan pertanda jika Allah akan mengutus seorang Nabi dari bangsa Arab Makkah. Dialah yang nantinya akan membebaskan Ka’bah dari berhala-berhala dan akan mengembalikan kemuliaan dan kejayaan Ka’bah.

Kisah tentara bergajah memuat sinyalemen kenabian. Sebagian ulama berpendapat, “Sesungguhnya peristiwa penyerangan yang dilakukan Abrahah dan bala tentaranya menjadi bukti dan dalil kenabian.” Di antara yang berpendapat demikian adalah Al-Mawardi. Dia berkata, “Tanda-tanda keagungan Allah sangatlah jelas dan bukti-bukti kenabian sangatlah nyata. Bukti tersebut diawali dengan beberapa peristiwa yang tidak dipungkiri kebenarannya dan bukan hanya sekedar anggapan. Kedahsyatannya dan ketenarannya secara tidak langsung menjadi kabar gembira sekaligus peringatan bagi manusia. Manakala masa kelahiran Nabi sudah dekat, tanda-tanda kenabian mulai mengharum. Tanda-tanda keberkahannya semakin kentara dan tanda yang paling fenomenal, masyhur, jelas, dan paling nyata di depan mata adalah peristiwa tentara bergajah.” Dia menambahkan, “Bukti kenabian terkait dengan peristiwa serangan tentara bergajah terhadap Ka’bah adalah bahwa pada saat itu Muhammad sudah ada dalam kandungan ibunya di Makkah. Beliau lahir 50 hari setelah peristiwa penyerangan tentara bergajah dan setelah kematian ayahnya pada hari Senin, tanggal 12 Rabi’ul Awal. Bukti kenabian terkait dengan peristiwa ini dapat dilihat dari dua segi:

Pertama: Bisa dibayangkan bahwa jika Abrahah dan bala tentaranya berhasil menaklukkan kota Makkah, pasti mereka akan menjadikan penduduk kota Makkah sebagai tawanan dan budak. Oleh karena itu, Allah membinasakan mereka demi melindungi Rasulullah, baik ketika beliau sudah lahir maupun masih di dalam kandungan.

Kedua: Penduduk Quraisy tidak memiliki ajaran ketuhanan yang memotivasi mereka untuk mengusir tentara bergajah. Mereka juga bukan Ahli Kitab, karena memang mereka adalah para penyembah berhala, beraliran pagan, atau mungkin tak beragama dan murtad. Akan tetapi ketika Allah berkehendak untuk menampakkan Islam melalui pengagungan terhadap Ka’bah dan kenabian dan manakala apa yang telah Allah lakukan terhadap tentara bergajah tersebar di kalangan masyarakat Arab, maka penduduk Quraisy akan semakin mengagungkan Ka’bah dan memuliakannya.

Kesucian Ka’bah mulai tertanam di dalam lubuk hati mereka dan pengingkaran mereka pun mulai luntur. Mereka berkata, “Allah telah membela orang-orang yang dekat dengan Allah (Ahlullah) dan Allah telah melindungi mereka dari tipu muslihat para musuh.” OIeh karena itu, mereka kemudian rela menyumbangkan sejumlah dana untuk kepentingan Ka’bah. Mereka mau mengabdi demi kemuliaan Ka’bah. Mereka tak segan-segan memberi minuman kepada para tamu-tamu Allah. Dana yang mereka kumpulkan pada setiap tahunnya digunakan untuk menyediakan makanan bagi para jamaah haji pada saat hari-hari Mina. ]adilah mereka para imam dan para pengibar bendera Allah. Jadilah mereka para pemimpin yang diteladani dan sebaliknya para tentara bergajah menjadi pelajaran bagi orang-orang terdahulu.

Ibnu Taimiyah berkata, “Peristiwa binasanya tentara bergajah terjadi pada masa kelahiran Nabi Muhammad. Saat itu penduduk sekeliling Ka’bah masih menyembah berhala. Karena itu agama Nasrani tentu lebih baik daripada mereka yang menyembah berhala atau tak beragama. Dengan demikian, ayat yang menggambarkan tentang fenomena binasanya tentara bergajah dalam surat Al-Fiil menunjukkan bahwa Allah membinasakan tentara bergajah bukan semata untuk melindungi penduduk di sekitar Ka’bah, tapi untuk melindungi Ka’bah atau untuk melindungi Nabi Muhammad yang lahir pada tahun tersebut, atau bisa jadi untuk melindungi keduanya. Yang pasti apa pun motifnya, semua itu merupakan bukti nubuwwah (kenabian).”

Sedangkan Ibnu Katsir berkomentar mengenai peristiwa tentara bergajah, Peristiwa ini merupakan bagian dari pembentukan dan langkah awal sebelum diutusnya Muhammad. Menurut pendapat yang masyhur, beliau dilahirkan tepat pada saat tentara bergajah menyerang Ka’bah. Yang pasti wahai penduduk Quraisy, sesungguhnya Allah telah memenangkan kalian dari serangan tentara Habasyah (pasukan bergajah), buka karena kalian lebih baik dari mereka, namun semata karena Allah melindungi Baitul ‘Atiq (Ka’bah) yang pada akhirnya karena diutusnya Muhammad selaku Nabi terakhir, kita semua jadi mengagungkan dan memuliakan Ka’bah.”
 
Perlindungan Allah terhadap Baitul ‘Atiq (Ka’bah). Sesungguhnya Allah tidak membiarkan Ahli Kitab (Abrahah dan bala tentaranya) membumihanguskan dan menguasai Tanah Suci. Allah juga tidak rela kesyirikan mengotori Tanah Suci. Orang-orang musyrik ketika itu dibiarkan oleh Allah hanya sekedar untuk menjaga Rumah ini tetap lestari dari siapa pun yang berusaha menguasainya, tetap terlindungi dari orang-orang yang berupaya merebutnya dengan licik. Allah memelihara Tanah ini tetap dengan kebebasannya, tanpa ada yang menguasainya. Dengan demikian diharapkan akan mulus dan tanpa hambatan ketika di sana tumbuh akidah baru. Allah sengaja tidak memberikan kekuasaan apa pun dan siapa pun untuk mendominasi Tanah ini, dan tidak membiarkannya dipegang oleh penguasa zalim. Allah tidak menyerahkan kepada siapa pun, baik ia penakluk manusia maupun penakluk agama untuk menguasai ajaran yang tumbuh di sekitar Ka’bah. Tak peduli ia disegani rakyat atau pun tidak. Ini semua merupakan sekenario Allah dalam rangka mengontrol Ka’bah dan agama-Nya sebelum orang-orang tahu kalau Nabi yang akan menjaganya juga lahir pada tahun yang sama, tahun ketika tentara bergajah menyerang Ka’bah.

Pada hari ini, setidaknya kita patut berbahagia dan tenang dengan tanda-tanda kenabian di atas, meskipun kita juga harus menyadari bahwa ada orang-orang yang tamak, jahat, dan licik yang akan merebut beberapa kawasan suci, baik dari kalangan umat Kristen maupun Yahudi internasional. Akan tetapi Allah sendirilah yang akan menjaga Rumah-Nya dari cengkeraman Ahli Kitab (Yahudi-Nasrani) dan antek-antek kaum musyrik. Insya Allah, Allah akan menjaga dan melindungi Kota Rasulullah dari tangan-tangan licik dan penuh tipu muslihat.
 
Hancurnya Tentara Bergajah menjadi catatan sejarah tersendiri bagi orang-orang Arab. Mereka menganggap peristiwa tersebut sangat fenomenal, sehingga mereka tidak mau melewatkannya. Mereka berkata, “Peristiwa ini terjadi pada Tahun Gajah bertepatan dengan lahirnya seorang anak pada tahun 570 Masehi.”
Cerita Kisah Raja Namrud : Hancurnya Pasukan Bergajah Kala Menyerang Mekah Oleh Burung Ababil Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Hana Shidqia
Loading...