Friday, May 25, 2018

Palestina : Sejarah Palestina Jadi Tanah yang Dijanjikan Palestina vs Israel

Sejarah Palestina Jadi Tanah yang Dijanjikan

Bagi bangsa Israel, Palestina adalah tanah yang dijanjikan Tuhan (The Promised Land) kepada mereka. Klaim sepihak itu, menurut Abdul Wahab Almessiri, seorang intelektual Mesir, merupakan penegasan bahwa tidak ada bangsa lain yang berhak menduduki Palestina kecuali umat pilihan Tuhan.

Israel mengklaim, merekalah umat pilihan Tuhan tersebut. Tidak peduli, apakah sebelum dan sesudah mereka hidup bangsa-bangsa lain di sana. Atas nama Tuhan, tanah Palestina adalah mutlak milik mereka.

Banyak pihak menilai klaim Israel itu berlebihan. Faktanya, memang demikian. Secara historis, jauh sebelum bangsa Israel ada, Palestina yang dahulu dikenal dengan nama Kanaan telah dihuni bangsa-bangsa kuno. Mereka mempunyai kebudayaan yang cukup maju. Penggalian arkeologis di beberapa Kota Kanaan, seperti Megiddo, Hazor, dan Sikhem, menemukan situs-situs, perabotan, keramik, dan permata. Benda-benda itu diperkirakan dibuat sebelum abad ke-17 SM.

Sejarah Palestina Jadi Tanah yang Dijanjikan

Menurut Karen Armstrong dalam bukunya Jerusalem: Satu Kota Tiga Iman menyatakan, tidak banyak informasi tentang negeri Kanaan sebelum abad ke-20 SM. Namun, banyak bukti yang menguatkan pernyataan bahwa Bangsa Kanaan lebih dahulu mendiami Palestina.

Prod Dr Umar Anggara Jenie, kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), menyatakan, Kota Jerusalem merupakan bukti yang paling baik dalam kekunoaan permukiman-permukiman bangsa Arab--semistis purba di Palestina--yang telah berada di sana jauh sebelum bangsa-bangsa lainnya datang. Kota ini didirikan oleh suku-suku Jebus, yaitu cabang dari bangsa Kanaan yang hidup sekitar 5000 tahun lalu.

''Yang pertama mendirikan Jerusalem adalah seorang raja bangsa Jebus-Kanaan,'' ujarnya dalam sebuah seminar tengang Yahudi dalam 'Perspektif Alquran dan Realitas Sejarah', beberapa waktu lalu.

Bahkan, setelah abad ke-20 SM, tercatat raja-raja Mesir telah berhasil menguasai Kanaan secara politik dan ekonomi. Salah satu tempat yang menarik perhatian penguasa Mesir adalah Gunung Ophel, karena gunung itu membuka akses ke Padang Pasir Yudea.

Selain punya posisi strategis di bidang ekonomi dan politik, Gunung Ophel menjadi pusat praktik-praktik pemujaan terhadap dewa. Di sebelah selatannya terdapat Gunung Zion, yang beberapa abad kemudian diklaim Bani Israel sebagai tempat suci yang dijanjikan Tuhan. Dengan demikian, kepercayaan tentang kesucian sebuah gunung sudah ada sejak lama di Kanaan, bahkan sebelum Bani Israel tiba di negeri itu.

Penyembah dewa-dewa meyakini gunung-gunung di Kanaan merupakan tempat bersemayamnya para dewa mereka. Gunung Ophel, Zaphon, Hermon, Karmel, dan Tabol, semuanya dianggap suci. Apakah ini berarti bahwa Bani Israel yang menganggap kesucian Gunung Zion terpengaruh oleh keyakinan-keyakinan kuno di Kanaan? Untuk menjawabnya perlu kajian yang lebih mendalam.

Namun, ada sedikit titik terang yang disebutkan oleh Armstrong, yaitu adanya kesamaan beberapa Mazmur Ibrani (kumpulan nyanyian keagamaan dan puji-pujian dari kitab Zabur) dengan himne-himne penduduk Kanaan kuno. Mazmur yang muncul itu berupa pemujaan terhadap Tuhan yang menobatkan Israel di Gunung Zion.

Memang, jelas Armstrong, para penyembah berhala Kanaan kuno punya tradisi mendaki tempat-tempat yang tinggi, untuk dapat merasakan bahwa mereka seolah telah berada di tengah-tengah antara langit dan bumi. Mereka membayangkan bertemu dengan dewa-dewa, seperti dewa Shalem, Baal, dan El.

“MENENGOK SEJARAH PANJANG KONFLIK PALESTINA-ISRAEL”
Palestina vs Israel

1. Zionisme

Zionisme modern diyakini berkembang pesat sejak akhir abad ke-19. Tapi sebenarnya gerakan ini sudah muncul ratusan tahun sebelumnya.

Kaum zionis meyakini tentang “Land of Israel” yang tertulis dalam Taurat. Atau juga dikenal dengan nama Kanaan, yang diceritakan pula kisahnya dalam kitab suci Alquran.

Tanah ini sebagai tanah yang dijanjikan buat mereka. Lokasinya di Bukit Zion, salah satu wilayah di Palestina, Jerussalem.

Bukit Zion (gambar : allaboutjerusalem.com)
Bukit Zion (gambar : allaboutjerusalem.com)
Saat itu Palestina merupakan nama wilayah biasa, BUKAN NAMA NEGARA/ KEDAULATAN. Nama Palestina sudah dilekatkan ke area ini sejak berabad-abad lalu.

Sejak Zionisme modern dicanangkan oleh kalangan SEKULER-Yahudi, beberapa kelompok Yahudi mulai eksodus ke wilayah Palestina, sejak masa Ottoman berkuasa di sana.

Ada keterkaitan yang kuat antara tekanan terhadap kaum Yahudi di Eropa (anti-Semit) dan makin ngototnya orang-orang Yahudi pengin mendirikan dan berdaulat di wilayah sendiri.

Orang-orang Yahudi yang mengalami diskriminasi yang parah bahkan sampai mengalami pembantaian di wilayah Eropa, dianjurkan mengungsi ke Bukit Zion dan sekitar. Jadi, gerakan ini tidak murni karena pengaruh keyakinan agama saja.

Diaspora Yahudi dari berbagai wilayah pelan-pelan membanjiri wilayah Palestina, puncaknya dari penghujung abad ke-19 hingga tahun 1940 an hingga menemukan momentumnya di tahun 1948.

Sebelum tahun 1948, penetrasi kalangan Yahudi ke wilayah ini sudah terjadi.

Tahanan anak-anak Yahudi di Kamp Konsentrasi Auschwitz (gambar : en.wikipedia.org)

Tahanan anak-anak Yahudi di Kamp Konsentrasi Auschwitz (gambar : en.wikipedia.org)
2. Kekaisaran Ottoman, Gerakan Nasionalis Turki, dan Revolusi Arab

Sejak awal abad ke-16, wilayah Palestina yang sekarang “diperebutkan” itu merupakan bagian dari kekuasaan Kesultanan Ottoman.

Ottoman membentang dari wilayah Afrika, Eropa, hingga Asia. Menaungi banyak etnis termasuk Turki, Arab, Armenia, Albania, Yunani dan Kurdi.

Pengaruh nasionalisme yang makin bersemi di Eropa meluas hingga ke Ottoman. Memunculkan gerakan-gerakan nasionalis dari generasi muda Turki. Pemerintahan yang sekuler (terbebas dari agama) dan mengukuhkan dominasi Turki dalam Kekaisaran Ottoman termasuk dalam hal-hal yang diperjuangkan gerakan ini.

Di tahun 1908, Young Turk Revolution berhasil membuat Sultan mengubah undang-undang dan mereformasi kabinet. Lebih dari 50% anggota kabinet diduduki oleh etnis Turki.

Gerakan Nasionalis Turki mendapat “respons” dari wilayah jazirah Arab. Sejak abad ke-18, solidaritas suku Arab sudah mulai berkembang. Kesadaran bahwa bangsa Arab dengan bahasa Arab yang menjadi bahasa Alquran seharusnya bisa menjadi bangsa yang lebih berjaya sudah mulai ditanamkan. Namun belum menyentuh ranah politik.

Di abad ke-19 sudah muncul suara-suara dari kalangan Arab meminta otonomi dan perubahan atas aturan wajib militer yang dirasa memberatkan dsb. Tapi yang diminta sebatas otonomi saja belum ke tahap memisahkan diri.

Dipicu oleh Gerakan Nasionalis Turki tadi, gerakan-gerakan separatis di semenanjung Arab mulai bermekaran. Salah satu pusatnya, di wilayah Hijaz. Wilayah Hijaz saat itu dikuasai oleh Bani Hasyim.

Sejak tahun 1913 mulai ada “pergerakan” berarti. Sementara di tahun 1914-1918, Perang Dunia 1 pecah dan menyeret Kesultanan Ottoman ke dalam kancah pertempuran.

Saat Ottoman menghadapi sekutu (Kerajaan Inggris and the gank), sekaligus harus membenahi masalah internal dari “gerakan Revolusi Arab”.

Ottoman-Empire-BAMPFA-org
Ottoman-Empire-BAMPFA-org
Di sinilah konon Churchill, yang saat itu masih berstatus petinggi militer di Kerajaan Inggris, memanfaatkan situasi internal Ottoman untuk mendesak kubu Jerman dkk. Untuk mengalahkan Jerman, bisa dimulai dengan senggol-senggol “teman-teman”nya dulu, kan?

Rumor “Lawrence of Arabia” munculnya dari sini. Ini entah beneran apa enggak. Karena sebagian literatur mengklaim bahwa Lawrence of Arabia itu hanya tokoh khayalan. Juga diyakini bahwa Kerajaan Inggris membantu mempersatukan kekuatan Arab untuk menggoyang Ottoman.

Balasannya? Dijanjikan kemerdekaan dan kedaulatan bagi wilayah Arab.

Hingga akhirnya Perang Dunia 1 berakhir dengan kemenangan pihak sekutu. Melalui perjanjian pasca perang, Kesultanan Ottoman menyerahkan sebagian wilayahnya kepada sekutu. Selanjutnya, Kerajaan Inggris dan Perancis diberikan mandat untuk “mengurusi” wilayah-wilayah dari Ottoman ini.

Di tahun 1920, wilayah Palestina berada di bawah mandat Kerajaan Inggris.

3. Jewish-Settlement

Meningkatnya kekerasan terhadap kalangan Yahudi di Eropa membuat kalangan Zionis-modern mulai memperjuangkan secara serius berdirinya “Negara Yahudi” yang memiliki tanah dan kekuasaan sendiri.

Negara-negara di Eropa menyadari ambisi Zionisme dan menawarkan beberapa solusi wilayah sebagai alternatif bagi “Land of Israel”. Misalnya Uganda-State yang ditawarkan oleh Kerajaan Inggris di tahun 1900,

Kalangan sekuler-Yahudi sempat ingin menerima tawaran ini. Buat mereka sebenarnya tidak masalah tempatnya di mana. Yang penting para pengungsi Yahudi punya tempat yang aman untuk berlindung.

Namun, akhirnya Uganda-State ditolak karena ada juga pihak ngotot kalau “Land of Israel” ya adanya di Jerussalem dan sekitar tadi. Sesuai dengan yang tertera di Kitab Suci Yahudi, Taurat.

Tahun 1903 dibentuk organisasi khusus Jewish Territorial Organization untuk mengakomodasi tawaran akan lahan alternatif bagi kaum Yahudi.

Tahanan Yahudi, mengenakan lambang bintang, tiba di Kamp Konsentrasi di Auschwitz
Tahanan Yahudi, mengenakan lambang bintang, tiba di Kamp Konsentrasi di Auschwitz
Tidak pernah ada titik temu hingga akhirnya organisasi ini tidak kedengaran lagi kabarnya sejak tahun 1925.

4. Balfour Declaration 1917

Kerajaan Inggris mengeluarkan pernyataan terbuka kepada publik terkait Jewish-Settlement di wilayah Arab-Ottoman :

“His Majesty’s government view with favour the establishment in Palestine of a national home for the Jewish people, and will use their best endeavours to facilitate the achievement of this object, it being clearly understood that nothing shall be done which may prejudice the civil and religious rights of existing non-Jewish communities in Palestine, or the rights and political status enjoyed by Jews in any other country.”

Kata-kata Palestina dalam pernyataan ini, sekali lagi, tidak merujuk ke NEGARA/ KEDAULATAN tertentu. Hanya nama tempat saja. Ingat, saat itu wilayahnya masih merupakan bagian dari Kekaisaran Ottoman.

Kerajaan Inggris ingin memfasilitasi wilayah ini sebagai negara bagi kaum Yahudi TAPI ada CATATAN JELAS bahwa yang diupayakan adalah asimilasi dan percampuran/penyatuan. Bukannya malah mengusir para penghuni asli wilayah Palestina setelah Israel dibentuk.

Masalahnya, di rentang periode yang sama, Kerajaan Inggris dan sekutu juga diyakini telah menjanjikan wilayah ini bagi bangsa Arab yang diinginkan bantuannya saat Perang Dunia 1 melawan Jerman-Ottoman dkk.

Kerajaan Inggris seperti “bermain di 2 kaki.” Kerancuan soal “tanah yang dijanjikan” inilah yang nanti menjadi pergolakan panjang sampai HARI INI. Termasuk wilayah Jerussalem yang diklaim sebagai “tanah suci” baik oleh kalangan Yahudi-Nasrani dan Islam.
Old CIty, Jerusalem (gambar : nationalgeographic.com)

Old CIty, Jerusalem (gambar : nationalgeographic.com)
Padahal sih kalau dibaca benar-benar isi pernyataannya, maunya sih wilayah Palestina digunakan bersama-sama saja antara bangsa Arab dan bangsa Yahudi. Tidak ada yang mau mengalah.

5. Semenanjung Arab Pasca Perang Dunia 1, 1920 – 1948

Dalam rentang tahun 1920-1948, Kerajaan Inggris dan Perancis membantu wilayah-wilayah yang menjadi mandat mereka untuk merdeka dan berdaulat menjadi negara sendiri-sendiri.

Namun, keduanya MENOLAK KLAIM bahwa hal ini dilakukan sebagai “balas jasa” atas bantuan “Jazirah Arab” kepada sekutu di masa Perang Dunia 1 berlangsung.

Tahun 1921-1922, Bani Hasyim mendeklarasikan Emirates of Transjordan di bawah mandat Kerajaan Inggris. Kerajaan Inggris sudah menetapkan wilayah tertentu sebagai “Jewish-Territory” di tahun 1922.

Namun perseteruan antara kalangan Yahudi vs Arab di wilayah ini terus memanas sejak berada di bawah mandat Kerajaan Inggris. Apalagi sejak banyaknya diaspora Yahudi yang mulai membanjiri wilayah Palestina.

Para pendatang Yahudi ini mulai melakukan tindak kekerasan kepada orang-orang lokal yang sudah bermukim di Palestina sebelum mereka datang. Alasannya ? Ya Deklarasi Balfour tadi. Diaspora Yahudi meyakini tanah Palestina sudah diberikan untuk mereka.

Seperti lingkaran setan, ya . Kekerasan yang dialami oleh para diaspora Yahudi di wilayah Eropa, mereka balaskan kepada orang-orang lokal di wilayah Palestina .

Sementara bangsa Arab juga ngotot, kalau wilayah tersebut bagian dari “Arab State” yang dijanjikan oleh Kerajaan Inggris.

Kisruh-kisruh baik kecil maupun besar terus berlanjut di wilayah Palestina dari tahun 1920 an tadi.
Arab Revolt (gambar : iwm.org.uk)
Arab Revolt (gambar : iwm.org.uk)
Dalam internal suku-suku Arab sendiri ternyata ada pergolakan. Dari sinilah akhirnya, Bani Saud berhasil memperluas kekuasaannya di wilayah Riyadh hingga terus merangsek maju sampai Mekkah dan Madinah. Saudi Arabia menjadi negara dengan wilayah terluas di Timur Tengah-Jazirah Arab setelah Algeria.

Tahun 1932, Arab Saudi berdiri menjadi negara sendiri, di bawah kendali Bani Saud.

Wilayah Mesir didirikan sebagai Kerajaan Monarki di tahun 1922 oleh Kerajaan Inggris. Sisanya silakan dibaca sendiri ya detailnya di sumber lain .

Yordania berdiri sebagai negara merdeka di tahun 1946 dengan nama The Hashemite Kingdom of Transjordan. Di masa ini, wilayah Jerussalem adalah bagian dari Yordania.

6. Pembagian Wilayah Palestina di Tahun 1947 Oleh PBB

Mohon dipahami, sampai tahun 1947 ini, NEGARA PALESTINA belum ada, ya. Yang terjadi adalah berdirinya negara-negara Arab di wilayah Semenanjung Arab disertai konflik berkepanjangan antara kalangan Yahudi vs kalangan Arab di wilayah Palestina.

Wilayah Palestina terus menjadi “wilayah panas”.

Hingga akhirnya United Nations (PBB) turun tangan dan melakukan pembagian wilayah atas Palestina.

Pembagian oleh PBB di bulan November tahun 1947 sebagai berikut : Palestina terbagi atas 3 wilayah –>

a. Jewish-State 
b. Arab-State, dan 
c. Wilayah Khusus Jerussalem dengan ibukota Betlehem.


1947 Palestine-Partition-Plan by PBB (gambar : news.bbc.co.uk)

1947 Palestine-Partition-Plan by PBB (gambar : news.bbc.co.uk)
Arab-State itu MEWAKILI semua klan Arab yang ada di sana waktu itu. Negara-negara Arab bersatu untuk berusaha menghalau kaum Yahudi mendirikan negara.

7. Perang Palestina 1948

Peperangan pun pecah menyusul ketidakpuasan negara-negara Arab atas hasil pembagian ini.

Kaum Yahudi gerak cepat dan mendeklarasikan berdirinya Negara Israel di bulan Mei 1948.

Perang Sipil ini terbagi 2 tahap :

a. Sebelum Israel mendeklarasikan kemerdekaan. Perang berlangsung antara Yahudi vs Geng Arab di bawah supervisi Kerajaan Inggris yang saat itu masih dianggap memegang mandat di wilayah Palestina.

b. Setelah Israel merdeka, perangnya menjadi Israel vs negara-negara Arab di sekitarnya.

Perang berakhir di tahun 1949 di mana akhirnya Israel menguasai wilayah hasil partisi oleh PBB di tahun 1947 + lebih dari 50% wilayah yang seharusnya diperuntukkan bagi Arab-State.

Yordania (TransJordan) menguasai wilayah Palestina-Arab State sisanya. Sementara Mesir menguasai wilayah Gaza. Sampai tahun 1949, negara Palestina belum berdiri.

8. Perang 6 Hari di Tahun 1967

Sejak selesainya Perang Palestina, hubungan Israel dengan tetangga-tetangga Arabnya tidak pernah harmonis.

Dua-duanya sama-sama menyimpan bara.

Dari perseteruan terkait Terusan Suez, perang kembali pecah antara Israel vs persatuan negara-negara Arab di tahun 1967. Dengan maksud yang kurang lebih sama merebut tanah Palestina yang dikuasai oleh Israel.

Hasil perang, Israel kembali menang dan meluaskan wilayah hingga ke Semenanjung Sinai, Dataran Tinggi Golan, Tepi Barat dan Gaza.

Di tahun 1979-1982, melalui perundingan, akhirnya Semenanjung Sinai kembali ke tangan Mesir.

Wilayah Palestina, dari masa ke masa
Wilayah Palestina, dari masa ke masa
9. Berdirinya PLO (Palestine Liberation Organization)

PLO berdiri di tahun 1964. Awalnya dibentuk untuk menyatukan organisasi-organisasi yang bertujuan membebaskan tanah Palestina dari pendudukan Israel melalui pergerakan bersenjata.

Tahun 1974, organisasi ini diakui oleh PBB.

Berdirinya PLO lambat laun membuat campur tangan negara-negara Arab mulai berkurang. Perjuangan merebut kembali wilayah Palestina sebagian besar “diserahkan” kepada PLO.

Tahun 1979, perdamaian antara Mesir dan Israel (terkait Semenanjung Sinai) tidak juga mewujudkan negara Palestina yang merdeka dari Israel.

PLO sempat bermarkas di Lebanon. Sebelum akhirnya diserang dan dihancurkan di tahun 1982. PLO berpindah markas ke Aljazair.

Tahun 1988, PLO mendeklarasikan berdirinya Negara Palestina.

Secara internal sendiri, PLO/Negara Palestina menghadapi perpecahan.

a. Kubu yang menolak mengakui Israel sama sekali. Jadi, hanya boleh ada satu : Negara Israel atau Negara Palestina.

b. Kubu yang mengakui eksistensi Israel tapi sekaligus ingin Palestina merdeka. Hingga akhirnya nanti akan ada 2 negara : Israel dan Palestina.

Kubu A cenderung enggan menempuh jalan diplomasi sementara kubu B ingin mengurangi perlawanan dengan cara kekerasan.

10. Bumbu agama mewarnai peliknya perebutan tanah di wilayah Palestina. Apalagi terkait Jerussalem.

Buat Yahudi, Jerussalam adalah tanah yang dijanjikan buat mereka. Nasrani meyakini Betlehem (Jerussalem) sebagai tempat lahirnya Jesus Sang Penyelamat. Umat muslim mengklaim Masjidil Aqsha di Jerussalem sebagai masjid suci ke-3 setelah Masjidil Haram di Mekkah dan Madinah.

Memperjuangkan Jerussalem sudah seperti panggilan perang suci / jihad di tiap agama. Padahal oleh PBB, Jerussalem di tahun 1947 sudah dianggap “wilayah istimewa” terlepas dari klaim masing-masing pihak. Begitu saja kan enak, ya. Enggak usah dikuasai. Jadi wilayah khusus saja. Semua boleh ziarah ke sana, tak perlu dimonopoli.

***

The rest of the story … pasti sudah pada tahu semua kan, ya. Begitulah akhirnya bolak balik bertempur dan saling menyerang. Saling menolak. Sampai sekarang.

Kesimpulan masing-masing saja, ya. Ini hanya mencoba menuliskan kolaborasi data sesingkat mungkin tapi mudah-mudahan tidak mengurangi maksud dan kejadian sebenarnya.
Palestina : Sejarah Palestina Jadi Tanah yang Dijanjikan Palestina vs Israel Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Hana Shidqia
Loading...