Thursday, August 30, 2018

Hak-hak Istimewa Perempuan Dalam Islam....Simak Yuk..!

Hak-hak Istimewa Perempuan Dalam Islam

SECARA teori, hak-hak perempuan dalam kitab suci Al-Qur'an sangat istimewa. Hanya saja dalam implemen­tasinya masih belum sep­erti yang dilukiskan dalam Al-Qur'an di sejumlah negara mayoritas berpenduduk mus­lim. Hal itu terkait dengan banyak faktor, di antaranya faktor warisan budaya setempat yang sudah terlanjur dipengaruhi oleh budaya dan tradisi misoginis, sebuah faham teologis yang memo­jokkan perempuan paling bertanggung jawab terhadap drama jatuhnya manusia dari langit kebahagiaan ke bumi penderitaan.

Hak-hak Istimewa Perempuan

Al-Qur'an sendiri tidak mengenal jenis kelamin utama dan kedua. Laki-laki dan perempuan sama saja posisinya di mata Tuhan. Siapa saja yang menorehkan prestasi berhak atasnya meraih keutamaan, sebagaimana ditegaskan dalam ayat: Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan (Q.S. al- Nahl/16:97). Dalam ayat lain ditegaskan pula: Barang siapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun (Q.S. al-Nisa/4:124).


Memang ada hadis Nabi yang diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim, Nasa'i, Abu Dawud, Ibn Majah, dan Ahmad ibn Hanbal yang seolah-olah menunjukkan laki-laki memiliki kelebihan dari segi ibadah. Hadis itu adalah sebagai berikut: Diriwayatkan oleh'Abdullah ibn 'Umar r.a ka­tanya: Rasulullah s.a.w telah bersabda: Wahai kaum perempuan! Bersedekahlah kalian dan perbanyaklah istigfar. Karena, aku melihat kalian lebih ramai menjadi penghuni neraka. Seorang perempuan yang cukup pintar di antara mereka bertanya: Wahai Rasulullah, kenapa kami kaum perempuan yang lebih ramai menjadi peng­huni neraka? Rasulullah saw., bersabda: Kalian banyak mengutuk dan mengingkari suami. Aku tidak melihat mereka yang kekurangan akal dan agama, daripada golongan kalian. Perempuan itu bertanya lagi: Wahai Rasulullah! Apakah mak­sud kekurangan akal dan agama itu? Rasulullah saw bersabda: Maksud kekurangan akal ialah penyaksian dua orang perempuan sama dengan penyaksian seorang laki-laki. Inilah yang dika­takan kekurangan akal. Begitu juga perempuan tidak mengerjakan sembahyang pada malam-malam yang dilaluinya kemudian berbuka pada bulan Ramadan kerana haid. Maka inilah yang dikatakan kekurangan agama.

Kata "kekurangan agama" (nuqshan al-din) dalam hadis ini tidak berarti perempuan secara potensial tidak mampu menyamai atau melam­paui prestasi ibadah laki-laki. Hadis ini hanya menggambarkan keadaan praktis sehari-hari laki-laki dan perempuan di masa Nabi; laki-laki memperoleh otoritas penyaksian satu berband­ing dua dengan perempuan, karena ketika itu fungsi dan peran publik berada di pundak laki-laki. Adapun "kekurangan agama" terjadi pada diri perempuan karena memang hanya perem­puanlah yang menjalani masa menstruasi. Laki-laki tidak menjalani siklus menstruasi, karena itu ia tidak boleh meninggalkan ibadah-ibadah wajib tanpa alasan lain yang dapat dibenarkan.

SECARA teori, hak-hak perempuan dalam kitab suci Al-Qur'an sangat istimewa. Hanya saja dalam implemen­tasinya masih belum sep­erti yang dilukiskan dalam Al-Qur'an di sejumlah negara mayoritas berpenduduk mus­lim. Hal itu terkait dengan banyak faktor, di antaranya faktor warisan budaya setempat yang sudah terlanjur dipengaruhi oleh budaya dan tradisi misoginis, sebuah faham teologis yang memo­jokkan perempuan paling bertanggung jawab terhadap drama jatuhnya manusia dari langit kebahagiaan ke bumi penderitaan.

Al-Qur'an sendiri tidak mengenal jenis kelamin utama dan kedua. Laki-laki dan perempuan sama saja posisinya di mata Tuhan. Siapa saja yang menorehkan prestasi berhak atasnya meraih keutamaan, sebagaimana ditegaskan dalam ayat: Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan (Q.S. al- Nahl/16:97). Dalam ayat lain ditegaskan pula: Barang siapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun (Q.S. al-Nisa/4:124).

Peniadaan sejumlah ibadah dalam masa menstruasi, seperti salat dan puasa adalah dispensasi khusus bagi perempuan dari Tuhan. Mereka tidak dikenakan akibat apa pun dari Tuhan karena menjalani proses menstruasi. Dengan demikian, hadis ini tidak bisa dijadikan dasar untuk merendahkan derajat kaum perem­puan di bawah kaum laki-laki. Faktor keadaan dan kondisi obyektif yang lebih menentukan. Boleh jadi memang demikian di tempat terntu tetapi di tempat lain bisa sebaliknya. Jika hadis ini difahami sebagai dasar untuk melemahkan posisi perempuan di bawah laki-laki berarti ber­tentangan dengan dua ayat Al-Qur'an di atas, padahal antara Al-Qur'an dan hadis Nabi tidak bisa dipertentangkan. Jika terjadi pertentangan maka tentu Al-Qur'an lebih kuat dijadikan seba­gai dasar.

HAK-hak istimewa perem­puan lainnya di dalam Islam ialah kaum perempuan dan laki-laki ditetapkan sebagai khalifah di bumi (khalaif al-adrdl), sebagaimana dite­gaskan dalam ayat: Dan Dialah yang menjadikan kalian penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggi­kan sebahagian kalian atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu ten­tang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Ses­ungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya, dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (Q.S. al-A'raf/6:165). Diper­tegas lagi di dalam ayat lain: Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan se­orang khalifah di muka bumi". Mereka ber­kata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan mem­buat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Eng­kau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kalian ketahui" (Q.S. al-Baqarah/2:30).

Kedua ayat di atas tidak membedakan laki-laki dan perempuan dalam kapasitas manusia sebagai khalifah di muka bumi. Tidak ada ayat atau hadis yang pernah menyatakan hanya kaum laki-laki berfungsi sebagai khalifah dan perempuan tidak. Kata khalifah dalam ked­ua ayat di atas tidak menunjuk kepada salah satu jenis kelamin atau kelompok etnis ter­tentu. Laki-laki dan perempuan mempunyai fungsi yang seama sebagai khalifah, yang akan mempertanggungjawabkan tugas-tugas kekhalifahannya di bumi, sebagaimana hal­nya mereka harus bertanggung jawab sebagai hamba Tuhan.

Kaum perempuan juga ditegaskan memili­ki kapasitas yang sama sebagai pengemban amanah dan menerima perjanjian primordial dengan Tuhan. Seperti diketahui, menjelang seorang anak manusia keluar dari rahim ibu­nya, ia terlebih dahulu harus menerima per­janjian dengan Tuhannya, sebagaimana dis­ebutkan dalam ayat: Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya ber­firman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kalian tidak mengata­kan: "Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (kee­saan Tuhan)" (Q.S. al-A’raf/7:172).

Dalam kitab tafsir Al-Razi oleh Fakhr al-Razi dijelaskan bahwa tidak ada seorang pun anak manusia lahir di muka bumi ini yang tidak ber­ikrar akan keberadaan Tuhan, dan ikrar mer­eka disaksikan oleh para Malaikat. Tidak ada seorang pun yang mengatakan "tidak". Da­lam Islam, tanggung jawab individual dan ke­mandirian berlangsung sejak dini, yaitu se­menjak dalam kandungan. Sejak awal sejarah manusia dalam Islam tidak dikenal adanya dis­kriminasi jenis kelamin. Laki-laki dan perem­puan sama-sama menyatakan ikrar ketuhanan yang sama.

Rasa percaya diri seorang perempuan da­lam Islam semestinya terbentuk sejak lahir, karena sejak awal tidak pernah diberikan be­ban khusus berupa "dosa warisan" seper­ti yang dikesankan di dalam Yahudi-Kristen. Kedua ajaran ini memberikan citra negatif begitu seseorang lahir sebagai perempuan, karena jenis kelamin perempuan selalu di­hubungkan dengan drama kosmis, yang mana Hawa dianggap terlibat di dalam kasus kelu­arnya Adam dari surga, sebagaimana disebut­kan dalam Kitab Kejadian 3:12: "Manusia itu menjawab: "Perempuan yang Kau tempat­kan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan". Band­ingkan dengan ayat Al-Qur'an yang menga­takan: Dan sesungguhnya telah Kami mulia­kan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas keban­yakan makhluk yang telah Kami ciptakan (Q.S. al-Isra'/17:70).

Sumber : RMOL
Hak-hak Istimewa Perempuan Dalam Islam....Simak Yuk..! Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Hana Shidqia

0 comments:

Post a Comment

Loading...