Sunday, October 7, 2018

Muadz bin Jabal, Sahabat Rasul yang Cerdas dan Selalu Ingat Mati

Muadz bin Jabal, Sahabat Rasul yang Cerdas dan Selalu Ingat Mati

Yordania - Negeri Urdun atau Yordania terkenal sangat kaya akan objek wisata sejarah religi. Hal ini karena Yordania pernah menjadi salah satu pusat peradaban Islam, dan bahkan negeri ini banyak menyimpan sejarah kenabian sebelum zaman Rasulullah membawa agama Islam.

Negara ini berada dalam jazirah Syam, termasuk negara Suriah dan Palestina. Yordania merupakan saksi penting bagi jatuh bangunnya kejayaan Islam. Negara ini juga pernah menjadi saksi Perang Mu'tah pada masa Rasulullah SAW dan Perang Salib pada masa Dinasti Ayyubiyah.

Di daerah Irbid, utara Yordania yang berbatasan dengan Palestina, terdapat sebuah makam sahabat Nabi yaitu Muadz bin Jabal. Perjalanan kali ini cukup jauh, sekitar 3 jam lebih perjalanan dari kota Amman. Namun sepertinya tidak mudah untuk masuk ke daerah ini, karena daerah ini merupakan kawasan perbatasan Yordania dengan Israel, sehingga seluruh kawasan dikontrol oleh tentara Yordania.

Pemeriksaan di check post pertama di daerah Umm quais Propinsi Irbid (Foto: Nico Adam)
Setiap pengunjung yang akan menuju Distric Ash Shunah Ash Shamaliyah, harus melewati pemeriksaan tentara. Ada beberapa negara yang dilarang memasuki kawasan ini, namun allhamdulillah, Indonesia bukan salah satu diantaranya.

Sahabat Nabi yang pandai

Muadz bin Jabal bin Amr bin Aus al-Khazraji, dengan nama julukan "Abu Abdurahman" adalah salah seorang sahabat nabi, termasuk golongan Anshar yang pertama masuk Islam (as-Sabiqun al-Awwalun), yang dikenal sangat diteladani oleh orang-orang di sekitarnya. Muadz terkenal sebagai cendekiawan dengan wawasannya yang luas dan pemahaman yang mendalam dalam ilmu fiqih, dan bahkan Rasulullah menyebutnya sebagai sahabat yang paling mengerti yang mana halal dan yang haram. Mu'adz juga merupakan Duta Besar Islam pertama kali yang dikirim Rasulullah dan juga merupakan seseorang periwayat hadist.

Di komplek makam yang dapat ditempuh dalam satu jam perjalanan dari kota Irbid, juga terdapat perpustakaan yang lengkap dengan koleksi buku dan menyimpan berbagai literatur sejarah perjalanan dan riwayat Muadz bin Jabal.

Allah SWT mengkaruniakan kepada Muadz bin Jabal kepandaian berbahasa serta tutur kata yang indah. Muadz termasuk di dalam rombongan yang berjumlah sekitar 72 orang Madinah yang datang berbai'at kepada Rasulullah, padahal Muadz baru memeluk agama Islam pada usia 18 tahun. Muadz berislam berkat dakwah Musaib bin Umair ketika berada di Madinah. Sejak itulah, ia belajar Islam secara mendalam. Karena kepandaiannya, Muadz cepat menjadi seorang pendakwah Islam di dalam masyarakat Madinah. Ia berhasil mengislamkan beberapa orang sahabat yang terkemuka, misalnya Amru bin Al-Jamuh.

Duta Besar Teguh Wardoyo bersama Ahmad Kepala Perpustakaan dan penjaga makam (Foto: Nico Adam)


Pembantu Rasulullah Sebagai Pendakwah di Makkah dan Negeri Yaman.

Muadz, sebagai sahabat Rasul ini pernah diminta Rasulullah untuk membantu mengajarkan agama Islam di Makkah. Ajakan Rasulullah ini karena permintaan masyarakat Makkah yang ingin memperdalam agama Allah. Oleh karenanya Muadz bin Jabal diminta Rasulullah untuk menetap bersama masyarakat di Mekkah untuk mengajar Alquran dan memberikan pemahaman kepada mereka mengenai agama Allah.

Sifat terpuji beliau juga jelas terlihat manakala rombongan raja-raja Yaman datang menjumpai Rasulullah agar mengirimkan tenaga pengajar kepada mereka. Rasulullah menyambut baik permintaan raja-raja Yaman tersebut, dan memilih Muaz untuk kembali memegang tugas itu bersama-sama dengan beberapa orang para sahabat lainnya.

Di Yaman selain berdakwah menyebarkan dan mengajarkan agama Islam, Muadz bin Jabal juga berdagang sebagaimana para sahabat lainnya. Berkat kepandaian dan ketekunannya dia berhasil meningkatkan omset dagangnya dan menjadi seorang yang kaya raya, santun dan faqih.

Perjalanan Terakhir ke Negeri Urdun, Syam.

Pemandangan di dekat situs makam, Di sebelah kiri adalah Danau Tiberias israel dan di kanannya adalah Dataran Tinggi Golan (Foto: Nico Adam)

Setelah beberapa lama berdakwah di Yaman, Muadz akhirnya mendapat misi untuk berdakwah ke negeri Syam untuk mengajarkan agama Islam ke penduduk negara tersebut.

Pada zaman pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab, gubernur Syam meminta kepada khalifah untuk mengirimkan guru bagi penduduknya. Lalu Khalifah Umar memanggil beberapa sahabat untuk berdakwah ke Damsyik (Suriah), Palestina dan Yordania. Dalam syiar agama kali ini, Muadz bin Jabal mendapat tugas untuk pergi ke negeri Urdun (Yordania) dan tinggal di sana untuk mengajarkan Alquran kepada masyarakat setempat dan memberikan pemahaman kepada mereka tentang agama Islam.

Namun keberadaan Muadz bin Jalal di negeri Urdun tidak terlalu lama karena ketika beliau berada di daerah ini sedang terjadi serangan penyakit menular yang sedang mewabah. Muadz terjangkiti dan sakit. Muadz akhirnya dipanggil Allah untuk menghadapNya dalam keadaan tunduk dan berserah diri. Muadz wafat pada tahun 18 Hijriah dalam usia 33 tahun. Hingga saat ini, makamnya tak pernah sepi dengan para peziarah.

Tauladan dari Muadz bin Jabal

Pada suatu hari Rasulullah SAW bersabda, "Hai Muadz!... Demi Allah, aku sungguh sayang kepadamu. Maka jangan lupa setiap habis salat mengucapkan: "Ya Allah, bantulah aku untuk selalu ingat dan syukur serta beribadat dengan ikhlas kepada-Mu."

Mu'adz mengerti dan memahami ajaran tersebut dan telah menerapkannya secara tepat. Pada suatu waktu Muadz pernah berdialog dengan Rasulullah, beliau menyampaikan "Setiap berada di pagi hari, aku menyangka tidak akan menemui lagi waktu sore. Dan setiap berada di waktu sore, aku menyangka tidak akan mencapai lagi waktu pagi."

Untuk itu marilah kita untuk tetap bersyukur dan isilah hidup ini dengan berbuat kebajikan, karena kita tidak tahu kapan dipanggil Allah SWT.

Nico Adam beridiri di depan pintu makam

*Penulis merupakan staf Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Amman, Yordania. 
Muadz bin Jabal, Sahabat Rasul yang Cerdas dan Selalu Ingat Mati Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Hana Shidqia

0 comments:

Post a Comment

Loading...